Powered By Blogger

Minggu, 05 Desember 2010

Jangan berharap kepada selain Allah

www.google.com
berharap hanya pada-Nya

oleh Kitab Al-Hikam pada 21 November 2010 jam 0:21
47) Jangan berharap/melampaui niat tujuanmu (hasrat harapanmu) kepada selainNya.  Allah yang Maha Pemurah itu tidak dapat dilewati oleh sesuatu harapan (angan-angan).

Perasaan yang luhur enggan membuka hajat kebutuhannya kepada orang yang tidak dermawan dan tidak ada dermawan pada hakikatnya yang sebenarnya kecuali Allah ta'ala.

Al-Junaid berkata :
Al-Karim (dermawan) itu ialah yang memberi hajat kebutuhan sebelum diminta.

Pendapat lain tentang Al-Karim (dermawan) :
ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berangan- angan.

Al-Karim yaitu apabila berkuasa memaafkan dan bila berjanji menepati dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan dan tidak menghituing berapa pemberiannya dan kepada siapa memberi.

48) Jangan mengadu / meminta sesuatu hajat kepada selain Allah sebab Ia sendiri yang memberi / menurunkan hajat itu kepadamu. Bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakan oleh Allah.
Siapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri selain Allah.

Tibanya suatu bencana menyebabkan engkau berhajat kepada bantuan pertolongan. maka dalam tiap berhajat jangan berharap selain kepada Allah, sebab tidak ada yang tetap selain Allah yang selalu tetap memberi karunia dan nikmat rahmatNya kepadamu.

Wahb berkata :
Allah telah mewahyukan kepada Nabi Daud as :
Hai Daud, demi kemulyaan dan kebesaranKu, tiada seorang hambaKu yang minta tolong kepadaKu dengan sungguh-sungguh kepadaKu, tidak pada selainKu, dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya, dan apabila orang itu akan diperdaya oleh penduduk langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, maka pastilah Aku akan menghindarkannya dari semua itu.
Sebaliknya demi kemulyaan dan kebesaranKu, tiada  seorang berlindung kepada seorang makhlukKu, tidak kepadaKu dan Aku ketahui yang demikian itu dari niatnya, maka Aku putuskan ia dari rahmatKu dan tidak Aku hiraukan dalam lembah jurang yang mana ia binasa.

Sabtu, 04 Desember 2010

Kejujuran adalah salahsatu kunci kesuksesan

Kejujuran…?? Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi.  Jujur jika diartikan secara baku adalah “mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran”.  Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Dan kondisi ini juga lah yg sedang di alami oleh bangsa Indonesia saat ini, banyaknya kasus² yg mencuat di permukaan mulai dari kasus KPK vs POLRI, BANK Century dan terbaru kasus Gayus. Ironisnya hampir semua kasus yg terjadi melibatkan instansi POLRI dan Kejaksaan.  Ini membuat rakyat Indonesia berharap  para pelaku (read; penyidik & terdakwa) di tuntut untuk menjunjung tinggi sebuah kejujuran dalam hal membongkar kasus yg ada.  Tapi nampaknya rasa pesimistis tetap menghantui sebagian besar rakyat negeri ini terhadap kejujuran dalam mengungkap sebuah kebenaran bagi mereka yg di beri amanah.  Semua tertuju pada sebuah kalimat “Rekayasa”, ahhh..ini mah klasikkkk…tapi paling tidak kita semua berharap kali ini benar² adanya sebuah kejujuran….amin
Lantas pertanyaannya adalah apakah kita sudah jujur pada diri sendiri? kemudian jujur terhadap orang lain? Lalu Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari?  Jawabannya adalah ada pada diri anda sendiri.